Sunday, May 27, 2007

IKLAN DI MEDIA LUAR RUANG

Yang temasuk IKLAN/PROMOSI di media luar ruang ini antara lain adalah :
1. Billboard
2. Baligho
3. Umbul-umbul
4. Spanduk
5. Papan Nama Toko (Shopsign)
6. Balon Udara
7. Neon Box, dll.

Hal khusus yang perlu diperhatikan saat Anda ingin menggunakan Media luar ruang ini adalah biaya pajak retribusi iklan. Besarnya pajak iklan ini tiap daerah memiliki kebijaksanaan dan peraturan yang berbeda. Namun biasanya hitungan dasarnya adalah sebagai berikut :

Panjang x Lebar x jangka waktu pemasangan (hari) x (NSR) Nilai Sewa Reklame x Tarif Pajak (%)

Contoh :
Bila anda ingin pasang spanduk 1 meter x 4 meter selama 30 hari. Lokasi anda di wilayah DKI dengan kelas jalan A / utama (NSR = Rp. 5.000,-). Biasanya Tarif Pajak dikenakan 25%.

Maka jumlah yang harus dibayar adalah :
1 x 4 x 30 x 5000 x 25% = Rp. 150.000,-

Jadi pajak iklan yang harus dibayar adalah hasil perkalian dari Panjang dengan Lebar bidang gambar dikalikan dengan jumlah hari pemasangan iklan Anda dikalikan lagi dengan nilai Rupiah yang besarnya sesuai peraturan yang berlaku. Disamping faktor-faktor di atas, biasanya ada peraturan tambahan lagi yang bersangkutan dengan luas bidang minimum dari iklan, faktor pencahayaan (Frontlite atau Backlite), lokasi kelas jalan, dll.

Anda harus mengeluarkan dua macam biaya yaitu :
1. Biaya produksi material promosi termasuk ongkos pasang tentunya.
2. Biaya pajak retribusi iklan daerah.

Jika Anda memutuskan untuk menggunakan media luar ruang ini maka pilihlah lokasi yang tepat sesuai sasaran konsumen serta produk Anda. Lokasi-lokasi persimpangan jalan biasanya menjadi incaran utama para pemasang iklan jenis ini. Namun tidak semuanya harus seperti itu. Kadang kala beriklan di dinding luar sebuah pusat pertokoan/Mall juga sangat efektif untuk mereka yang memiliki toko di dalam Mall tersebut. Jadi tidak perlu memasang iklan di persimpangan jalan yang biasanya sangat mahal. Pemasangan iklan di lapangan olah raga juga sangat efektif untuk produk minuman energy, air mineral, suplemen kesehatan dan peralatan olah raga.

Hal penting lainnya dalam merencanakan iklan luar ruang ini adalah jangan menggunakan kata-kata atau kalimat yang terlalu panjang. Karena lokasinya yang berada di tempat-tempat umum, biasanya orang akan membaca iklan ini sambil beraktifitas. Jadi waktu Anda untuk bisa menarik perhatian mereka sangatlah singkat. Supaya pesan dalam iklan Anda efektif maka utamakan untuk menampilkan gambar dan slogan singkat yang mudah diingat.

Thursday, May 24, 2007

Tambah Unit Usaha Baru

Alhamdulillah..... Segala puji dan syukur tak henti-hentinya Saya haturkan kepada Allah SWT.
Mudah-mudahan tanggal 1 Juni 2007 nanti unit usaha Kami akan bertambah satu lagi dengan counter TIKI yang akan melayani pengiriman barang & dokumen. Belum genap setahun saya & beberapa teman meleburkan diri dalam usaha bersama di bidang Travel (Terminal Tiket Depok), eeehhh sekarang sudah berkembang lagi. Semoga semuanya berjalan lancar. Amiiin...

Thursday, May 17, 2007

Merek / Brand Gotong Royong

Ini salah satu tulisan yang saya kirim ke milis TDA:
Belum lama ini saya berkunjung ke sebuah kios baju anak milik teman saya yang berada di ITC Kuningan Ambasador. Sekalian audit pakaian yang saya titip jual kepadanya. Setelah selesai semua urusan pembayaran, saya iseng jalan-jalan untuk sekedar mencari inspirasi. Beberapa kios saya kunjungi sambil menggali berbagai informasi.
Dan akhirnya Inspirasi itu datang juga setelah saya melihat satu kios yangcukup ramai pembelinya. Kebetulan Kios tersebut merupakan cabang/agen darisebuah merek yang cukup rajin beriklan di Koran. Cabangnyapun cukup banyak.Saya lihat dikios tersebut juga melayani grosir dan memiliki atribut-atributpromosi yang lumayan lengkap seperti brosur, poster, shopping bag, neon boxdll. Promosinya gencar juga ya… itu yang terpikir oleh saya. Tentunya modaluntuk mempromosikan merek/brand tersebut sangatlah besar. Apalagi sayasering melihat iklannya di Koran. Dalam iklannya selalu dituliskan puluhanoutlet yang menjual mereknya yang tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi, &Banten.
Dalam benak saya ada pemikiran seperti ini;
Pada komunitas kita di TDA, tentunya ada banyak orang yang memilikiusaha/bisnis sejenis seperti selimut, baju muslim, baju anak dll. Merekatentunya menggunakan merek/brand/nama usaha mereka sesuai keinginan merekamasing-masing. Dan bisa dipastikan merek usahanya berbeda satu dengan yanglainnya. Untuk sesama TDA yang masih kecil skala usahanya, tentunya akanlebih berbobot kalau kita melebur merek/brand/nama usaha tersebut menjadisebuah merek bersama sehingga lebih kuat. Kesannya tentu akan seperti sebuahFrancise atau Agen cabang. Dan image yang terbentuk akan lebih kuat karenakesannya cabangnya sudah berkembang dimana-mana. Dalam hal ini tentu kitatidak perlu membayar francise fee atau deposit keagenan. Kalaupun inginberiklan di Koran atau membuat brosur & material promosi lainnya tentu jugalebih murah karena akan ditanggung bersama-sama. Bayangkan saja kalau tiapmerek usaha Anda beriklan sendiri-sendiri. Tentu biaya akan lebih boros danmungkin kurang "Nendang".
*Ibarat kata*….. usaha kecil kita masing-masing ini seperti lidi-lidi yangmemiliki besar & panjang yang berbeda-beda dan akan mudah patah. Kalaudigabungkan tentu akan menjadi sebuah sapu yang kuat & lentur serta lebihdahsyat. Istilahnya mungkin akan menjadi *Merek/Brand gotong-royong*.

Tuesday, May 1, 2007

Bakmi Jawa, Kisah Dari Mulut ke Mulut.

Suatu saat saya berkunjung ke Jogja untuk silaturahmi dengan beberapa sahabat yang memiliki bisnis/usaha yang berjalan bagus di sana. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah warung bakmi jawa yang setiap malam selalu dipenuhi oleh para pembeli. Rata-rata pembelinya adalah rombongan besar yang menggunakan beberapa mobil sekali datang. Ternyata mereka berasal dari daerah yang lumayan jauh. Bahkan tak jarang pula didatangi rombongan dari Pejabat Daerah maupun pejabat dari Pemerintahan pusat.

Jangan dulu membayangkan bahwa warung tersebut terletak di pusat kota Jogja yang strategis, di pinggir jalan utama yang lalu lintasnya ramai dan memiliki arsitektur khas Jawa yang menarik. Anda salah besar. Warung tersebut ternyata terletak di dalam sebuah perkampungan yang agak jauh dari pusat kota Jogja. Jalan masuknyapun sangat sempit meskipun bisa dilalui kendaraan roda empat. Dan yang lebih tidak meyakinkan adalah jalan tersebut tidak tembus ke mana-mana alias buntu. Jadi kalau kita mau pulang ya harus melalui jalan yang sama saat kita menuju ke sana. Bangunan yang digunakan terbuat dari kayu dan anyaman bambu sederhana yang semi permanen.

Apa yang mereka lakukan sehingga warung itu begitu ramai dikunjungi pembeli? Jangan dulu berfikir soal mistik yang aneh-aneh. Karena warung tersebut ternyata memiliki beberapa trik berpromosi yang sangat unik.

Saat mulai membuka warung Bakmi jawa ini, pemiliknya sebenarnya masih seorang karyawan rendahan di pemerintahan daerah. Tugasnya adalah membawa kendaraan dinas salah satu pemimpin di kantornya. Selesai bekerja dia selalu mengurusi warungnya dari mulai belanja ke pasar, memasak sampai melayani konsumen. Saat belanja ke pasar itulah Beliau mulai melakukan strategi uniknya. Beliau sengaja mencari warung-warung bakmi yang ramai pembelinya dan ikut makan di sana. Di sela-sela menikmati bakmi itu Beliau selalu menyempatkan untuk membuka percakapan dengan sesama pembeli di kanan-kirinya. Dia selalu berkomentar sebagai berikut : “Bakmi ini enak ya…. Bapak-bapak di sini pasti gemar makan bakmi ya? Tahu tidak di Jogja ini ada bakmi yang jauh lebih enak dari tempat ini! Saking enak dan terkenalnya banyak para pembelinya yang datang dari jauh loh.” Karena rata-rata yang makan di situ adalah penggemar bakmi yang merupakan target sasarannya, biasanya beberapa diantara para pembeli itu langsung bertanya : “Di mana?” Saat itulah Beliau langsung memberikan alamat warung berikut petanya tanpa membuka identitas pemiliknya yang tentunya dirinya sendiri.

Apa yang terjadi akibat perbuatannya tersebut? Beberapa orang yang terprovokasi/tertarik dengan referensi terselubung tersebut di lain waktu akan mencari alamat yang mereka dapat. Namun karena lokasi warung yang memang terpencil dan di dalam perkampungan, maka alamat tersebut agak sulit di cari. Oleh sebab itu mereka akan banyak bertanya kepada orang yang ditemui di jalan. Makin banyak orang yang bertanya lokasi bakmi “yang katanya terkenal” tersebut, maka orang-orang yang ditanyapun juga ikut penasaran dan di lain waktu ikut-ikutan mencoba bakmi tersebut. Bukankah ini termasuk trik promosi dari mulut ke mulut yang jitu?

Saat bekerja di kantorpun Beliau tak lepas untuk selalu mempromosikan warungnya bahkan kepada atasannya. Kalimat saktinya adalah: “Ada bakmi yang paling enak di Jogja ini yaitu di jalan……” tentunya dengan merahasiakan identitas pemiliknya yaitu dirinya sendiri.

Trik tersebut tidaklah bermaksud untuk membohongi orang lain, tetapi semata-mata agar orang merasa penasaran dan ingin tahu. Selebihnya tentunya kalau makanannya tidak enak tentunya juga tidak akan berfungsi apa-apa. Jadi makanan yang dijual juga harus enak. Hal utama yang menjadi modal setiap warung makanan tentunya adalah cita rasa. Warung Bakmi Jawa ini memang mampu mempertahankan rasa yang enak pada setiap hidangan yang mereka buat. Tanpa menggunakan Vetsin dan hanya menggunakan bumbu yang alami. Pembeli yang sudah jauh-jauh datang sampai nyasar ke mana-manapun akhirnya juga akan puas setelah menyantap Bakmi Jawa tersebut dan kembali ke rumah dengan cerita yang menarik serta memberikan referensi yang positif kepada orang lain.

Ada trik lain yang termasuk unik dalam mempromosikan keberadaan warung Bakmi Beliau. Suatu saat Beliau sedang jalan-jalan dengan istrinya dan tiba-tiba mendapat ide menarik saat melewati sebuah stasiun radio swasta. Beliau segera masuk ke kantor stasiun radio tersebut dan minta formulir yang berisi “kirim-kirim lagu dari dan untuk pendengar radio”. Dalam formullir tersebut Beliau memilih lagu sekaligus menuliskan pesan yang bunyinya seperti ini: “Salam manis dari ….. untuk sahabatku …… kapan kita ketemu lagi di warung Bakmi Jowo. Bakminya enak sekali loh...!” Pada titik-titik tersebut Beliau tuliskan nama orang sekenanya saja. Toh para pendengar tidak ada yang tahu. Di kesempatan lain pada acara yang sama dia menelpon stasiun radio tersebut dan membalas sendiri salam tersebut seolah-olah dari orang yang namanya dikirimi lagu. Beliau lakukan hal tersebut kepada beberapa stasiun radio dan kirim salamnyapun dibuat saling sahut-menyahut yang intinya membicarakan warung Bakmi Jowo miliknya. Tentunya hal ini akan membuat penasaran para pendengar radio dan banyak yang jadi ingin tahu. Di sini bisa kita lihat bahwa Beliau melakukan promosi terselubung yang sangat jitu tanpa mengeluarkan biaya iklan yang banyak.